Guru Hendaknya Bisa Menjadi Pendengar dan Penengah

ASIF MAULANA

Guru yang dicintai oleh anak didik adalah guru yang bisa menjadi pendengar dan penengah bagi mereka. Mendengar dimaksudkan di sini lebih kepada upaya seorang guru untuk bisa memberikan waktunya kepada anak didiknya yang sedang menyampaikan pikiran maupun perasaannya. Hal ini merupakan kebutuhan setiap manusia, termasuk anak didik, yakni didengarkan apa yang ingin disampaikannya. Sedangkan menjadi penengah bermakna bagaimana seorang guru bisa menempatkan dirinya secara netral (tidak memihak) apabila ada dua orang siswa atau siswa dengan pihak lain terjadi ketidakcocokan.
Setiap orang mempunyai kebutuhan utama untuk bisa menyampaikan apa yang menjadi pikiran dan perasaannya. Kebutuhan ini harus bisa terpenuhi dengan baik agar manusia mempunyai kesehatan mental dan pola komunikasi yang baik dengan orang lain. Itulah mengapa setiap orang butuh menyampaikan apa yang menjadi pikiran atau perasaannya dan bila didengarkan ada kepuasan atau rasa bahagia. Bila yang terjadi adalah sebaliknya, yakni apa yang menjadi pikiran dan perasaannya tidak didengar dengan baik, ada rasa kecewa di hati.
Demikian pula dengan anak didik. Seorang guru harus bisa menjadi pendengar yang baik bagi setiap apa yang disampaikan oleh anak didiknya. Sungguh, bila hal ini dapat dilakukan maka ia akan dicintai oleh anak didiknya. Mendengarkan apa yang disampaikan oleh anak didik bisa jadi pada saat pelajaran berlangsung atau di luar jam pelajaran sekolah. Dalam hal ini, hal penting yang harus diperhatikan adalah guru tidak boleh egois. Bisa jadi seorang guru sedang menghadapi masalah dalam hidupnya. Namun, sebagai seorang guru yang mendidik dan mendampingi anak didiknya dalam proses belajar mengajar ia tetap harus bisa menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Bila hal ini bisa dilakukan tentu para anak didik itu akan senang sekali kepada guru tersebut. Dan, pada saat anak didik merasa senang dengan sang guru, percayalah hal ini adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang guru.
Sikap mau menjadi pendengar yang baik ini bisa terjadi jika seorang guru mempunyai empati yang baik kepada anak didiknya. Sikap yang penuh empati dari seorang guru yang mau mendengarkan apa yang menjadi pikiran anak didiknya, keluh kesahnya, usul dan sarannya, atau bahkan protes anak didik kepada sang guru. Ya, protes anak didik kepada sang guru. Hal seperti ini pun sesungguhnya bukan tabu dalam dunia pendidikan. Bisa jadi anak didik merasakan metode yang dipakai oleh sang guru tidak sesuai dengan keinginannya maka mereka pun perlu didengarkan. Sungguh, hal ini sangat penting agar sang guru dapat memperbaiki keadaan dalam proses belajar mengajarnya.
Ada kalanya anak didik juga membutuhkan tempat untuk curhat (mencurahkan isi hati). Tidak semua anak didik bisa curhat kepada kedua orangtuanya. Bisa jadi dengan alasan malu, takut dimarahi, atau bahkan ingin curhat masalah yang terjadi antara anak didik dengan orangtuanya. Bila sudah begini, teman adalah teman untuk curhat bagi anak didik ketika berada di sekolah. Namun, sayang, tidak semua teman bisa dijadikan tempat yang nyaman untuk curhat. Hal ini terjadi karena anak didik membutuhkan orang yang lebih tua dan berpengalaman darinya. Maka, gurulah akhirnya menjadi tempat yang paling tepat untuk curhat.
Ya, guru akhirnya menjadi tempat yang paling tepat untuk curhat bagi anak didiknya. Di samping lebih dewasa, seorang guru juga bisa memasukkan nilai-nilai yang baik sekaligus memberikan solusi. Hal ini sangat terkait dengan keberhasilan dalam meraih kesuksesan dalam proses belajar mengajar. Akan tetapi, amat disayangkan jika anak didik juga tidak menjadikan seorang guru sebagai tempat yang tepat untuk curhat karena sang guru tidak pernah bisa menunjukkan empati yang baik kepada anak didiknya. Di sinilah penting bagi seorang guru memerhatikan masalah ini.
Di samping harus bisa menjadi pendengar yang baik, seorang guru juga harus bisa menjadi penengah yang baik di antara anak didiknya. Sungguh, menjadi penengah yang baik ini sangat penting untuk diperhatikan. Sebab, bagaimapun setiap anak didik pasti ingin diperlakukan dengan adil bersama teman-temannya. Masih ingat istilah guru pilih kasih? Tentu bagi anak didik yang dikasihi oleh sang guru akan senang sekali dan merasa dekat dengan guru tersebut. Namun, bagi sebagian besar anak didik yang lainnya, tentu sangat tidak senang dengan guru tersebut.
Guru yang pilih kasih kepada anak didiknya dijamin tidak akan bisa menjadi penengah yang baik. Padahal, bila seorang guru tidak bisa menjadi penengah yang baik, dari sinilah sesungguhnya timbulnya kekecewaan dari anak didik yang merasa diperlakukan dengan tidak adil. Inilah awal dari sebuah petaka baru, yakni sang guru akan dibenci oleh anak didik yang merasa diperlakukan dengan tidak adil tersebut.

Salam Pendidikan Indonesia,!!

0 komentar:

Posting Komentar